Dalam
rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan rantai pasok material dan
peralatan konstruksi guna memenuhi berbagai kebutuhan investasi
infrastruktur yang cenderung terus meningkat, diperlukan dukungan sistem
informasi yang komprehensif dan dapat dipercaya. Untuk itu, Pusat
Pembinaan Sumber Daya Investasi (Pusbin SDI), Badan Pembinaan
Konstruksi, Kementerian PU meluncurkan ‘SISDI (Sistem Infomasi Sumber
Daya Investasi)’ pada acara Public Works Day dalam ‘Pameran Conbuild
Mining Indonesia 2012 dan Renewable Indonesia 2012’ tanggal 4 Mei 2012
lalu.
Menurut Kepala Pusat Pembinaan Sumber Daya Investasi BP Konstruksi Kementerian PU-Ir. Mochammad Natsir, M.Sc, SISDI merupakan suatu media yang dapat mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi dimana mendekatkan permintaan (demand) dan pasokan (supply), baik dalam bentuk badan usaha, material, peralatan, tenaga kerja maupun sumber daya investasi lainnya. Adapun maksud dan tujuan SISDI, adalah sebagai informasi dasar bagi investor dan penyedia jasa yang akan mengembangkan bisnisnya, informasi bagi para pelaku industri material dan peralatan konstruksi untuk merencanakan strategi bisnisnya, informasi bagi Kementerian Teknis dalam pembinaan penyelenggaraan infrastruktur, serta menjaring masukan dari masyarakat konstruksi dalam rangka pengembangan industri jasa konstruksi nasional.
Dalam
laman Sistem Informasi Sumber Daya Informasi atau SISDI memuat
informasi tentang: pasar dan potensi pasar konstruksi domestik yang
dibiayai oleh APBN, APBD, BUMN, BUMD dan Swasta, maupun pasar dan
potensi pasar konstruksi mancanegara yang potensial untuk diakses oleh
penyedia jasa di Indonesia, serta informasi sumber daya material dan
peralatan konstruksi yang terdiri atas: peta lokasi ketersediaan
peralatan per provinsi, peta quarry sumber daya material, peta AMP per
provinsi, peta realisasi distribusi pengadaan semen per provinsi, peta
kapasitas produksi semen nasional tahun 2010–2015, peta industri baja
nasional, peta aspal minyak PT Pertamina (Persero), peta deposit lokasi
aspal Buton, dan estimasi kebutuhan material dan peralatan konstruksi.
Dengan tersedianya informasi pada SISDI ini, diharapkan penyedia jasa
konstruksi di Indonesia dapat bekerja lebih efisien sehingga akan
memiliki daya saing yang lebih tinggi.
“Kami
berharap, agar data atau informasi yang terkandung dalam SISDI ini
dapat terus menerus dilengkapi, diperluas dan di-up date, sehingga
benar–benar dapat dirujuk oleh Pembina Sektor dalam perumusan kebijakan,
serta oleh pelaku usaha dan industri dalam penyiapan rencana usaha dan
produksi,” tandas Moch. Natsir, sembari menambahkan, bahwa pengembangan
SISDI tidak mungkin akan terwujud tanpa kerjasama yang baik di antara
pemangku kepentingan.
Dengan
berhasil diluncurkannya SISDI ini, Kepala Pusbin SDI juga mengucapkan
rasa terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh stakeholder
atau pemangku kepentingan atas kerjasamanya selama ini, dan disertai
harapan agar dapat meningkatkan dan memperluas kerjasama di masa
mendatang. “Sebagai sistem yang baru dibangun, SISDI masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan dan menghargai setiap
masukan konstruktif untuk menyempurnakan SISDI,” demikian Moch. Natsir.
ydsP








